Ancaman Laut China Selatan, Apa Harus Dilakukan Rakyat Indonesia?

banner%2Bfb.png





Kapal induk pertama China, Liaoning (IndianDailyDefence)


INDONESIA MILITER - Laut China Selatan merupakan titik potensial konflik yang paling panas di kawasan regional yang cara mengantisipasinya, tidak lain dengan memperkuat pertahanan militer dan menjalankan strategi militer dan diplomatik, untuk membendung atau menahan ancaman tersebut. Kenapa ancaman itu nyata, karena China terus mengembangkan militernya, hingga menjangkau Laut China Selatan. Tidak itu saja, bahkan kapal keruk Chuan Hong 68 China berani melakukan eksplorasi bawah air di laut Anambas, Kepulauan Riau, Indonensia, yang akhirnya berhasil ditangkap oleh Patroli Laut Malaysia. Bisa jadi, ke depannya, jangkauan China akan lebih jauh lagi, apalagi mereka telah meluncurkan kapal induk kedua dan sedang membangun kapal induk ketiga.

Ada pemikiran menarik dari pakar pertahanan dan intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, tentang potensi ancaman China dan tindakan apa yang harus dilakukan Indonesia. dalam tulisan yang diluncurkan Viva.co.id tanggal 10 Mei 2017.

Kita simak kutipan pemikiran Susaningtyas yang ditulis VIVA.co.id dalam artikel : Strategi untuk Antisipasi Konflik di Laut China Selatan :

Kerja sama pertahanan dengan negara tetangga diperlukan untuk mengantisipasi dinamika konflik teritorial wilayah seperti persoalan Laut China Selatan. Tak hanya kerja sama, namun perlu disiapkan upaya penguatan teritorial untuk mengantisipasi potensi meletusnya konflik di Laut China Selatan.

Pengamat militer dan intelijen, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati mengatakan, perlu ada sistem pertahanan yang dibangun TNI terutama TNI AL dan AU. Terkait hal ini, membutuhkan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang menyesuaikan kebutuhan.

“Itu dipandang penting, berbagai peralatan baru untuk mengantisipasi dinamika dan potensi meletusnya konflik di Laut China Selatan,” kata perempuan yang akrab disapa Nuning itu dalam keterangan tertulisnya yang diterima VIVA.co.id, Rabu, 10 Mei 2017.


Dia menambahkan, antisipasi lain dengan rutin melakukan latihan siaga tempur. Pihak Komando Armada Kawasan Barat (Koarmabar) dinilai harus meningkatkan intensitas kerja sama taktis antara kapal dan pesawat tempur Komando Operasi Angkatan Udara (Koops AU) I.

Diharapkan dengan latihan siaga tempur maka bisa meningkatkan kemampuan prosedur komunikasi dengan pesawat-pesawat tempur TNI AU. Kemudian, pihak TNI AU juga harus aktif memulai berlatih mengendalikan drone hingga jarak lebih dari 50 kilometer.

“Selain deteksi dini dengan pesawat tempur TNI AU dan drone, maka perlu penambahan radar-radar early warning dan radar-radar surveillance untuk mendeteksi kehadiran pesawat tempur dan kapal-kapal Coast Guard China,” ujar Nuning.

Kemudian, di daerah terdekat seperti perairan Anambas sampai Bangka Belitung juga harus diperkuat dengan memasang peralatan sonar portable. Langkah ini diperlukan untuk mendeteksi potensi kapal selam China jika melakukan penyusupan ke perairan Indonesia.

Nuning mengkhawatirkan jika tak melakukan antisipasi dini, maka risiko yang dihadapi pihak TNI terutama Koarmabar akan berat.
“Sebagai contoh, jika pesawat tempur TNI AU dan sistem pertahanan udara kapal-kapal Koarmabar tak disiapkan dengan baik, maka serangan udara China sulit dicegah,” tuturnya.

Selain itu, disarankan dilakukan kerja sama intelijen dan pertahanan dalam skema arsitektur kawasan dengan negara tetangga. Selain Malaysia, Filipina, Indonesia bisa menggandeng Australia dalam kerja sama ini. Karena bukan hanya Laut China Selatan, namun juga potensi konflik Laut China Timur yang perlu diantisipasi.

“Kerja sama ini bisa dilakukan Koarmabar dengan angkatan laut negara-negara tetangga yang berkonflik dengan China di Laut China Selatan. Minimal, Angkatan Laut negara-negara tersebut dapat memberikan data intelijen pergerakan kekuatan China,” ujar Nuning.


Viva.co.id



banner%2Bfb.png
close
== [Close] ==
>